Selama ribuan tahun, manusia menatap langit, selalu berusaha mencari ketertiban dalam kekacauan. Filsuf Yunani kuno Plato pernah menyatakan bahwa benda langit harus bergerak dengan kecepatan seragam sepanjang 'lingkaran sempurna'. Untuk mempertahankan estetika filosofis ini,sistem geosentrispara pendukungnya merancang model yang kompleksepicycle (putaran kecil) dandeferent (lingkaran besar) model (Diagram 7.1-5), untuk menjelaskan mengapa planet kadang-kadang mengalami fenomenagerak mundur (retrograde motion) fenomena (Diagram 7.1-4).
Perpindahan Paradigma dari 'Lingkaran' ke 'Keindahan'
Ketika Copernicus mengusulkansistem heliosentris๏ผDiagram 7.1-6๏ผๅ๏ผๅฎๅฎ็ไธญๅฟๅ็ไบไฝ็งป๏ผไฝๅ ถๅๅจ่ฟๅจ็ๆ่งไพ็ถๆ็ผ็่ฎก็ฎ็็ฒพๅบฆใ็ดๅฐๅผๆฎๅ้่ฟๅฏน็ฌฌ่ฐท่งๆตๆฐๆฎ็่ฐ่ฆๅๆ๏ผ็ปไบๆ็ ดไบๅๅจ็็ฅ่ฏใไปๆๅบ๏ผ่กๆ่ฝจ้ๆฏelips, dan Matahari berada di salah satu fokus elips.
Hukum Ketiga Kepler: Ritme Semesta
ๅผๆฎๅไธไป ้ๅกไบ่ฝจ้๏ผๆดๆญ็คบไบๆๆ่กๆๅ ฌ่ฝฌ่ฝจ้ๅๅพ $r$ ไธๅจๆ $T$ ไน้ดๅญๅจ็ไธฅๅฏ็ๆฐๅญฆๅฅๅ็น๏ผ$\frac{r^3}{T^2}=k$. Dalam rumus ini, koefisien proporsi $k$ tidak bergantung pada massa planet itu sendiri, tetapi ditentukan hanya oleh massa benda pusat (Matahari). Aturan ini menyatukan semua anggota Tata Surya dalam satu jaringan geometri yang utuh.